Santunkah Kita ?

24 06 2008

Seperti biasa pada hari senin pagi penulis berangkat ke Jakarta, bus Warga Baru yang ditumpangi berjalan lambat sekali dan udara panas Jakarta sudah mulai merambah masuk ke dalam bus. Rupanya mata ini masih mengantuk … maklum tadi pagi bangun jam 4 dan sambil merebahkan kepala ke jok kursi matapun sudah mulai tertutup pelan.

Sayup-sayup terdengar alunan lagu sunda melaui tiupan seruling, suaranya begitu pelan tapi syahdu. Penulis pun membuka mata sambil melirik dari mana suara seruling tadi, oh ternyata pengamen jalanan … Tidak ada yang beda dengan pengamen ini dengan pengamen yang lain, baju lusuh dengan keringat mengalir di pelipisnya. Ukulele pun sudah keliatan rusak disana sini tapi dari alunan lagu yang dia mainkan kayaknya menenangkan. Selesai memainkan suling dia pun mulai memainkan ukulele nya menyanyikan lagu sunda yang lain .. suaranya bagus dan cengkok sundanya cukup bagus sehingga mata penulis yang tadinya mengantuk mulai terjaga.

Beberapa lagu sunda yang dimainkan pun usai dan seperti biasa dia pun bertutur kata sebagai penutup permainannya, kata-katanya tidak ada bedanya dengan pengamen yang lain dan dia pun mulai mengeluarkan bungkus permen yang dijadikan sebagai tempat menampung receh bagi penumpang yang mau memberikan shadaqahnya.

Berjalan pelan dari satu kursi ke kursi yang lain dia lalui, ada sedikit yang menarik dari kata-kata yang dia ungkapkan ..

“Alhamdulillah bapak/ibu kalau Allah memberikan rejeki pada hari ini mudah-mudahan menjadi berkah buat keluarga saya dan maaf jangan sampai bapak/ibu merasa terpaksa untuk memberikan shadaqahnya ..” Kata pengamen dengan santunannya, terdengar kalimatnya begitu hati-hati keluar dari mulutnya

Sambil lalu dia pun mulai berjalan lagi, terlihat oleh penulis beberapa tingkah penumpang ada yang acuh, melotot, pura-pura tidur, nunduk terus dan yang memberi sampai akhirnya pengamen tadi sampai di satu kursi dan penumpangnya berkata :

“Maaf Mas …” Penulis tidak tahu arti maaf ini apakah tidak punya uang atau tidak mau memberi tapi yang menarik adalah ucapan pengamen menjawab perkataan tadi

“Duh pak jangan minta maaf … justru saya yang seharusnya minta maaf kepada bapak karena sudah mengganggu perjalanan dan tidur bapak … Sekali lagi maaf kan saya ya pak ..” Dia pun tersenyum sambil meneruskan perjalanannya ke kursi yang lain.

Subhanallah … begitu santunnya pengamen ini, padahal jarang sekali penulis melihat pengamen yang santun begitu rupa justru banyaknya malah memaksa penumpang buat ngasih recehan kalau ngak dikasih malah mencak-mencak padahal lagu yang dia nyanyikan boro-boro bagus malah memekakkan telinga.

Penulis jadi teringat surat Al-Araf ayat 199 yang dibaca kemarin

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh

Luar Biasa … pengamen yang setiap harinya selalu terkena ejekan, cacian bahkan mungkin makian masih sempat untuk menyabarkan dirinya bahkan hatinya semakin terasah untuk bertoleransi terhadap orang lain.

Penulis mulai bertanya pada diri sendiri … “Lebih santunkah aku terhadap yang lain ????”


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: