Kisah Sebatang “Korek Api”

16 07 2008

Cerita ini berawal pada saat penulis mencoba untuk “berhijrah” pada tahun 1993 ke pondok pesantren Buntet – Cirebon, kebetulan saat itu perkuliahan awal sudah selesai dan kuliah libur selama 3 bulan dan daripada bengang bengong dirumah mendingan cari ilmu. Kebetulan bapakku tercinta tinggal di Cirebon jadi sekalian jenguk orang tua mampir di Pesantren Buntet.

Alhamdulillah .. Allah memberikan kemudahan dengan memperkenalkan salah satu ustad dari pesantren buntet yang jadi imam mesjid di kampung bapak saya tinggal (saya sudah lupa namanya … mudah-mudahan Allah memberikan rahmat kepada beliau). Singkat cerita kami pun pergi bersama-sama ke lokasi pesantren buntet yang jaraknya kira-kira 15 km dari rumah, sesampainya disana Alhamdulillah Pak Kyai kebetulan lagi di rumah. Terlihat Pak Kyai bersahaja dengan balutan sarung dan dari perkenalan itu beliau dengan kerendahan hati memperlihatkan komplek pesantrennya karena disana sebetulnya hanya sebuah desa yang kebetulan banyak kyai dari lulusan pesantren seluruh Indonesia, beliau benama Kyai Hasanudin .. semoga Allah merahmati beliau.

Dari pembicaraan awal penulisan mengutarakan bahwa ingin mempelajari Islam di tempat beliau dalam waktu satu bulan, beliau hanya tersenyum dan berkata “Wah … nanti sampeyan dapat ilmu apa ya dalam waktu singkat begitu, begini saja .. sampeyan nginap di rumah saya bareng dengan keponakan laki-laki saya” kemudian beliau berdiri dan masuk kedalam kamarnya, tak lama beliau keluar lagi dengan membawa beberapa buah buku sambil berkata :

“Nih saya pinjamkan beberapa buku, coba kamu baca dan pahami nanti setiap pagi kalau saya tidak ada halangan kita diskusikan buku-buku ini”

“Ya Pak Kyai … Insya Allah akan saya lakukan .. ” jawabku

Setelah beberapa hari tinggal di pesantren buntet terasa kental sekali kehidupan islami disana apalagi ditambah santri yang berjumlah ribuan yang menimba ilmu disana. Sekali waktu penulis dengan Pak Kyai bertemu dalam diskusi di suatu pagi, dalam pertemuan itu seperti biasa kami pun berdiskusi tentang buku-buku yang penulis baca. Selang beberapa lama beliaupun mulai mengambil sebatang rokok dan mulai menyalakan batang korek api.

“De joni … coba kamu perhatikan korek yang saya nyalakan ini …” kata beliau sambil memegang ujung korek

Penulis pun memperhatikan api korek itu membakar perlahan batang korek sampai mendekati ujung dan mati dengan menyisakan beberapa mili dari kayunya.

“Coba perhatikan … kita hidup ini ibarat sebatang korek api yang asalnya lurus sesuai yang diinginkan oleh Allah kemudian pada saat pentul korek api ini dinyalakan ibarat kita baru dilahirkan kedunia dan coba perhatikan lagi bagaimana api telah menjadikan kayu korek api yang lurus menjadi berliku-liku dan rapuh, itu diibaratkan kita hidup didunia ini kadang-kadang berbuat dosa dan berusaha untuk lurus kembali, semua itu berjalan sesuai hukum sunatullah kemudian akhirnya api berhenti pada satu tempat … apakah itu diawal, ditengah, diakhir bahkan mungkin seluruh batang ini habis terbakar, itu ibarat kematian yang akan menghampiri kita sesuai dengan takdir Allah … ” ucap Pak Kyai dengan mata berkaca-kaca.

Subhanallah … Allah membuat perumpamaan yang begitu sempurna tentang hidup hanya dari sebatang korek api yang tidak terpikirkan oleh kita.

Sahabat … mungkin ini hanya sebuah kisah kecil yang tiada artinya tapi mendengar dan melihat kesungguhan seorang Kyai yang mengungkapkan itu tergetar hati penulis bahwa hidup ini akan berakhir dengan kematian tinggal bagaimana akhir dari hidup kita ini, apakah kembali kepada sang Khalik dalam keadaan Khusnul Khotimah atau Su’ul Khotimah … Hanya pembaca yang dapat menjawabnya


Aksi

Information

One response

3 08 2008
trisno g7-11

Subhanallah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: