Ruhiyah dan Rupiah di Ramadhan Penuh Berkah

3 09 2008

Meraih kemenangan? Itu yang kembali harus kita tanyakan pada Ramadhan ini. Karena bisa jadi skor sesungguhnya kita kalah 0-3.
Ketika menjelang Ramadhan, seolah-olah menjadi kebiasaan atau budaya, maka harga-harga kebutuhan melambung tinggi. Sebenarnya, ketika hal itu menggerakkan ekonomi umat, maka itu semua tidak menjadi masalah. Artinya, setiap tahun dengan hadirnya Ramadhan semakin memperkuat posisi ekonomi umat di tengah percaturan global. Sehingga dari tahun ke tahun masalah perekonomian umat Islam ini menjadi semakin membaik.
Tapi ternyata kenyataannya tidak demikian. Kebanyakan umat Islam masih bergelimang himpitan kebutuhan ekonomi yang mendasar, produktifitas yang keteteran, dan penyakit mentalitas yang kronis. Dari tahun ke tahun perputaran ekonomi tidak menggiring umat secara keseluruhan kepada kondisi yang lebih baik dan mendudukannya kepada pondasi ekonomi yang kokoh. Harus kita akui, berkah Ramadhan dari sisi peningkatan rupiah lepas dari kita. Padahal Ramadhan itu original milik umat Islam. Bukankah itu menunjukkan kita kebobolan 0-1.
Yang lebih mencengangkan adalah, ketika perputaran ekonomi yang sistematis tidak melibatkan umat Islam secara signifikan itu terjadi, malah konsumsinya meningkat berlipat-lipat. Hakikat puasa sebagai metode menahan hawa nafsu seolah-olah terbantahkan dengan arus konsumsi yang gila-gilaan.
Sekali lagi, ini tidak menjadi masalah ketika input yang spesial untuk menyambut bulan spesial ini melahirkan output yang spesial juga. Karena kita ingin ibadah habis-habisan maka kita siapkan asupan nutrisi yang lebih berkualitas. Sehingga diharapkan keimanan kita meningkat. Dan hasil akhirnya adalah semakin banyak orang Islam yang berIslam dengan baik, keshalehan umat ini semakin kental, penolakan kepada kemaksiatan semakin berbondong-bondong dan solid, dsb.
Tapi ternyata kenyataannya tidak demikian. Sebagai suatu komunitas, kaum muslim ternyata didukung atas individu yang masih lemah keberagamaannya. Ketika dilakukan tes baca Al-Qur’an pada suatu sampel ternyata di atas 50% bermasalah. Jadi jangankan membentuk ruhiyah yang kental. Modal untuk memulai interaksi ke alam ruhiyahnya saja masih belum dimiliki. Sangat disayangkan, ditengah konsumsi untuk pemuasan duniawi digelontorkan sebagai berkah dari Ramadhan, kembali umat ini tidak bisa mengambil manfaat untuk meningkatkan ruhiyahnya. Padahal Ramadhan itu original milik umat Islam. Bukankah itu menunjukkan kita kebobolan 0-2.
Yang lebih menyedihkan lagi, ketika kita sudah kebobolan 0-2, ternyata kita sambut Ramadhan ini dengan penurunan kerja-kerja kita. Rasanya seperti argumen yang benar ketika masuk bulan Ramadhan kita menghormatinya dengan mengurangi jam kerja. Masuk boleh agak siang dan pulang boleh agak lebih cepat. Namanya juga bulan Ramadhan.
Kembali itu tidak menjadi masalah ketika kita menjadi lebih sibuk mencari ilmu dan menambah ’amal kebaikan. Tapi kenyataannya hanya menambah jam tidur, waktu istirahat, kesempatan berleha-leha, mencari cara untuk mengisi waktu biar tidak terasa puasanya, dsb. Maka yang muncul adalah budaya ngabuburit. Yang tema utamanya melakukan kegiatan yang bisa melupakan kalau kita lagi mengalami hal berat, yakni berpuasa. Logikanya dimana, ketika kita harus menyambut kedatangan bulan mulia, tapi kemudian harus kita lupakan.
Rasulullah sendiri menandai Ramadhan ini dengan kemenangan Badar. Sebuah kemenangan perang yang fenomenal. Artinya puncak aktifitas ada di sana. Badar sendiri dimulai dari motivasi penguasaan ekonomi yang diperluas menjadi penguasaan kebenaran atas kebathilan. Tentu saja kegemilangan seperti itu tidak bisa kita raih dengan mental kerja yang biasa atau bahkan diturunkan kadarnya.
Kebanyakan umat Islam masuk Ramadhan bagaikan tuan besar yang siap berleha-leha. Sementara pihak lain memasuki Ramadhan ini dengan kerja keras berlipat-lipat, dengan perhitungan bisnis yang ketat, dan dilakukan dengan penuh semangat. Kira-kira siapa yang akan lebih mendapatkan berkah Ramadhan, setidaknya bagi penguasaan alam semesta ini, bagi kepemilikan sumber daya alam dari Allah ini. Yang sebenarnya kaum musliminlah pewarisnya. Apakah kita sudah siap menjadi ahli waris? Padahal Ramadhan itu original milik umat Islam. Bukankah itu menunjukkan kita kebobolan 0-3.
Tidak ada yang sia-sia dari segenap penciptaan Allah. Semua hadir ketengah-tengah kita sebagai bentuk pembelajaran. Tinggal kita bertanya, apakah iman kita sanggup menerima ini sebagai pembinaan-Nya. Kita mulai dari tahun ini dengan menjadikan Ramadhan kali ini sebagai Ramadhan terbaik. Dimana dari tahun ke tahun kita bisa muncul menjadi pribadi yang semakin mandiri dan semakin merdeka.
Caranya kita harus kerja keras.. Hanya itu yang saat ini kita miliki. Waktu kita habiskan untuk meningkatkan ibadah langsung kepada Allah. Dan kita habiskan lagi untuk meningkatkan muamalah kita dalam pekerjaan atau perniagaan. Kalau perlu jangan terpikirkan untuk istirahat atau bahkan tidur. Biarkan kelelahan yang luar biasa saja yang menghantarkan kita menutup mata untuk tertidur. Sehingga tidur kita dinilai juga sebagai ibadah.
Dan itulah sejarahnya tidur yang dinilai ibadah. Tidur atas kerja keras yang luar biasa. Kerja keras yang meningkatkan penguasaan ekonomi untuk kebaikan umat (berinfaq, shadaqah, dll). Kerja keras yang meningkatkan penghambaan kepada Allah dengan ibadah langsung ataupun ibadah muamalah di alam semesta ini. Kerja keras yang membentuk pribadi penuh energi vitalitas, kedahsyatan inovasi, ledakan potensi, efektifitas dan efisiensi yang tinggi, ilmu-ilmu yang mulia, dsb.
Tidak ada yang hilang dari segenap perjuangan dan pengorbanan kita. Tidak ada yang terpisah dari ruhiyah dan rupiah untuk Ramadhan yang penuh berkah. Selamat menjadi generasi rabbani yang rrruarrr biaza!!!

Andri Abdul Aziz


Aksi

Information

One response

7 09 2008
iapky

Allahu akbar! benar skali, kita kebobolan 0:3 ! Smoga tulisan ini dpt tersosialisasi lebih luas, shg tjd perubahan signifikan dlm tubuh umat islam, mulai dari thn ini…. Insya Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: