Sempat Mengaku Atheis di Hadapan Ibunya

23 09 2008

Harian Surya – Senin, 08 September 2008

MALANG-Hidayah tak akan datang begitu saja. Perlu proses penggalian terus menerus hingga akhirnya mampu menemukan jati diri Islam yang sesungguhnya. Bagi Ratna Indraswari Ibrahim, proses pencarian Tuhan diawalinya dengan menganalisa berbagai fenomena alam yang sederhana hingga cakupan logika tingkat tinggi.
Siapa yang tak kenal Ratna Indraswari Ibrahim, penulis cerpen dari Kota Malang, yang mampu memaparkan berbagai masalah dalam cerpennya secara lugas. Karya-karyanya menunjukkan bahwa Ratna seorang penulis yang matang dan berpengalaman. Namun dalam perjalanan spiritual, Ratna ternyata pernah menempuh jalur “kiri”.
“Saya atheis.” Klaim itu sempat terlontar dari mulut Ratna di hadapan Ibundanya, Siti Bidasari Ibrahim Binti Arifin. Namun sang ibu yang terlahir dari keluarga Minang (Sumatera Barat) itu justru hanya menanggapinya dengan senyuman.
“Waktu itu saya baru saja jadi mahasiswa di Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) di Unibraw. Mungkin kalau orangtua lain akan mengusir saya dari rumah, karena telah mengingkari keangungan Allah,” kenang Ratna, saat ditemui Surya, Jumat (5/9) lalu.
Semenjak itu Ratna jauh dari Islam. Di saat para saudaranya menjalankan ibadah Ramadan pun, Ratna tetap kukuh pada prinsip Atheisnya.
Namun perhatian keluarga dan kearifan sang ibu yang terus menunjukkan indahnya Islam secara perlahan membuat hati Ratna tergerak kembali.
Perubahan memang tidak datang begitu saja. Ratna remaja yang kritis, mulai membuka diri dan pemikiran untuk menganalisa seluruh kejadian alam melalui logikanya. Karena menurutnya, agama itu harus mampu menjawab seluruh permasalahan yang ada di dunia dengan logika yang jelas. Penulis buku Lipstik Di Dalam Tas Doni itu pun mulai mencari teman diskusi tentang Islam.
“Saya mulai memikirkan setiap fenomena yang terjadi, mulai dari rontoknya daun ke tanah yang akhirnya menjadi humus dan mampu memberikan nutrisi bagi tanaman. Dan di situlah saya menemukan secuil keagungan Tuhan. Dan semakin saya dalami dan pertanyakan berbagai hal yang terjadi, semakin besar saya melihat keagungan-Nya,” beber penulis yang sudah menghasilkan 400 cerpen itu.
Mulai mengupas berbagai kajian Islam dengan logika dan pemahaman eksak yang dimilikinya ternyata membuat Ratna semakin terpikat pada keindahan Islam. Ratna pun mulai memahami, ternyata seluruh fenomena yang ditunjukkan Sang Khalik merupakan sebuah proses panjang, hampir sama dengan proses pertaubatannya.
“Tak ada keajaiban atau kejadian khusus yang membuat saya langsung menetapkan bahwa Islam memang agama terbaik yang dianugerahkan kepada saya, semua melalui proses pencarian yang panjang. “Sekarang saya sudah menjadi muslim atas dasar keyakinan saya sendiri, bukan memeluk Islam karena garis keturunan”, ungkap peraih penghargaan dari Kompas karena kesetiaannya sebagai penulis.
Meskipun sudah mampu menghasilkan ratusan cerpen sejak usia remaja dan membuat namanya dikenal di seluruh nusantara, tetapi bagi Ratna itu bukan kado terindah untuk orangtua, terutama sang bunda yang telah mendidiknya dengan penuh pengertian.
Kembali ke jalan Islam, justru menjadi kado terbesar yang diberikannya kepada sang Bunda. “Setidaknya saat ibu saya meninggal tahun 2000 lalu, beliau sudah tenang, karena saya sudah kembali ke jalan Allah,” ujarnya.
Ditambahkan, momentum Ramadan pun bisa menjadi media yang tepat bagi umat muslim lainnya untuk melakukan pengintensifan proses penguatan keimanan. Sebab anugerah Tuhan yang terbesar tak akan bisa ditemukan melalui proses yang instan.
Melainkan harus terus dicari dan digali baik melalui kajian sosial, eksakta maupun kajian gaib yang bisa diterima alam pikiran manusia.”Dan Ramadhan kali ini saya anggap kesempatan yang baru lagi untuk menambal keimanan saya yang masih bolong-bolong ini.
Dan sekarang saya bersyukur terlahir dan diberi kesempatan menemukan keindahan Islam itu,” ungkap wanita kelahiran Malang, 24 April 1949 lalu itu.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: