Multi Tasking

18 02 2009

multi-tasking1Malam itu tak biasa nya penulis mencari-cari teman buat jama’ah sholat Isya, kebetulan salah satu santri yang sudah besar sedang mengobrol di pelataran mesjid dan dia belum sholat Isya ketika ditanya sudah sholat atau belum. Maka kami pun segera menunaikan sholat Isya berjama’ah, seusai sholat penulis menanyakan keadaannya karena kemarin ini sang santri tersebut jatuh sakit. Katanya stress dengan kuliah yang dihadapinya sekarang ini, belum selesai pekerjaan pertama muncul kerjaan kedua .. eh kedua belum selesai muncul yang ketiga dan seterusnya dan seterusnya dan seterusnya ..

Penulis tersenyum .. Allah Maha Besar, ada saja jalan yang diberikan Allah untuk hamba Nya. Sudah beberapa minggu ini penulis mempunyai ide untuk menuliskan tentang metode MULTI TASKING tapi selalu saja gagal untuk menjabarkannya dalam bentuk tulisan. Kebetulan bisa menyampaikan apa yang ada di pikiran ini pada dia, mudah mudahan bisa membantu nya .. Insya Allah.

Multi Tasking secara harfiah berarti bermacam-macam tugas dan biasanya sebutan ini lebih kepada subyek / orang dengan banyak tugas yang harus dikerjakan dalam waktu yang bersamaan. Pada awalnya mungkin kita akan berfikir orang ini tentunya adalah orang yang sangat pintar diatas rata-rata dan sepertinya dapat menulis menggunakan dua tangan nya, kiri dan kanan dengan topik tulisan yang berbeda dalam waktu yang bersamaan.

Lah … terus bagaimana dengan kita yang kemampuan otaknya terbatas bahkan mungkin biasa-biasa saja. Sebentar … sepertinya ada yang salah dengan pendeskripsian kita tentang “Multi Tasking” yang dibicarakan diatas. Memang betul bahwa arti dari multi tasking itu mengerjakan bermacam-macam tugas akan tetapi bukan berarti dalam waktu dan tempat yang sama.

Dalam suatu pekerjaan biasanya orang yang bekerja diberi beban tugas yang banyak dalam waktu yang bersamaan. Manusia dengan kemampuan multi tasking berarti dia mampu memanaje apa yang menjadi beban tugas nya dalam waktu 24 jam, 7 hari, 1 bulan, 1 tahun dan seterusnya. Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita dari sekian banyak pekerjaan yang menjadi beban tugas ini dapat termanaje dengan baik sehingga apa yang diinginkan tercapai dan tidak menimbulkan stress.

  1. Inventarisasi beban kerja yang akan dilakukan. Melakukan inventarisasi ini tidaklah begitu sulit, cukup ambil kertas dan pulpen atau buka komputer anda kemudian tuliskan apa-apa saja yang harus kita kerjakan.
  2. Urutkan skala prioritas dari beberapa pekerjaan tersebut. Berdasarkan inventarisasi yang telah ditulis, coba urutkan berdasarkan prioritas. Sebagai panduan saja, biasanya prioritas ini dibagi berdasarkan parameter skala High Importance (sangat penting), Medium Importance (sedang-sedang saja) dan Low Importance (kurang begitu penting) tinggal anda yang menentukan.
  3. Perhitungkan secara kasar bila perlu detil berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan – pekerjaan tersebut. Biasanya sih perhitungan ini berdasarkan pengalaman, parameter – parameter apa saja yang dapat menunjang terhadap penyelesaian pekerjaan
  4. Segera lakukan rencana kerja yang telah disusun. Hal ini yang kadang-kadang menjadi kendala, pada saat sudah melakukan perencanaan biasanya agak malas untuk melaksanakannya dan kalau sudah selesai melakukan satu pekerjaan sebaiknya segera juga melakukan tugas yang lain
  5. Disiplin dan fokus terhadap pelaksanaan rencana kerja. Disiplin merupakan kunci dalam menyelesaikan pekerjaan, biasakanlah untuk melakukan pekerjaan “step by step” dan tidak beralih pada pekerjaan lain sebelum pekerjaan sebelumnya selesai. Terus bagaimana kalau dalam pekerjaan pertama kita sudah “mentok” tidak dapat menyelesaikannya ?, coba perhitungkan .. kalau seandainya dari rencana diperkirakan dalam 3 jam pekerjaan akan selesai kemudian pada 2 jam pertama pekerjaan sudah mentok lakukan plan B dengan menunda pekerjaan tersebut dan melanjutkan pada pekerjaan berikutnya. Jangan lupa untuk mendiskusikan lagi pekerjaan yang tertunda dengan orang yang dianggap bisa dan setelah itu kita kerjakan kembali karena masih punya 1 jam untuk menyelesaikan pekerjaan ini.

Setelah semua hal diatas dilakukan, biasanya orang ketika melakukan sesuatu pasti akan selalu melihat terhadap hasil akhir yang dia lakukan maka ketika hasil akhir itu tidak memuaskan atau gagal tentunya akan kecewa atau bahkan menjadi stress. Memang tidak salah kalau kita melihat terhadap hasil akhir tapi coba kita ubah pola pikir ini untuk melihat bahwa proses yang dikerjakan lebih penting daripada hasil akhir. Sekarang bayangkan .. kalau kita berfikir tentang proses, maka opini yang terbentuk dalam pikiran kita adalah semua yang kita kerjakan ini pada niat awalnya untuk menjalankan perintah Allah dalam berusaha, apalagi diawali dengan ucapan “Bismillah … “ maka tentunya poin pahala kita sudah bertambah disisi Allah apalagi usaha itu dibarengi dengan ridho dari orang tua kita, kerja keras, peras otak, peras keringat dan lain sebagainya tentunya poin-poin kita di sisi Allah akan terus bertumpuk .. jadi pada saat hasil akhir tidak memuaskan maka yang terpikirkan oleh kita adalah poin-poin pahala yang sudah bertumpuk di sisi Allah dan hal lain yang muncul adalah kegagalan yang ada justru menjadi pelajaran bahwa terdapat hal-hal yang kita abaikan dalam proses pengerjaannya sehingga dapat kita perbaiki pada waktu yang akan datang.

JoMulyo


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: