Letting Go

4 06 2010

Ikhlas yang adi bicarakan di sini berasal dari kata bahasa Inggris letting-go, yang secara harfiah berarti melepaskan.

Makna pertama adalah makna ikhlas yang sering digunakan orang kebanyakan, ikhlas diasosiasikan dengan kata tabah dan sabar menjalani suatu cobaan.

Tapi sebenarnya, kata ikhlas juga berarti kita harus mau melepaskan sesuatu yang bagus, sesuatu yang di mata kita sangat berharga dan sangat berat untuk melepaskanya .

Sering langkah kita menuju kesuksesan yang lebih besar terhambat karena kita merasa sudah memiliki segalanya dan karenanya sudah merasa puas. (Tidak, ini tidak sama dengan merasa tidak bersyukur. Sama sekali lain. ).

Cerita berikut ini dikutip dari “MILLIONAIRE MINDSET” karya Gerry Roberts pandangan lain tentang keihklasan.

Kisah ini menceritakan tentang seorang gadis kecil yang begitu gembira bisa membeli seuntai kalung mutiara imitasi dari sebuah toko kaki lima dengan uang sakunya sendiri.

Dia begitu bangga dan gembira dengan pencapaiannya ini, yaitu kemampuan dan kedisiplinannya menabungkan sebagian uang jajannya untuk membeli sebuah kalung mutiara yang tampak begitu indah di matanya (sama seperti kita semua yang bangga bila berhasil mencapai sesuatu dengan jerih payah kita sendiri).

Dipakainya kalung itu setiap saat, kecuali ketika hendak tidur dan mandi karena tidak ingin kalung tersebut membelit rambutnya yang panjang atau pudar warnanyajika  terkena air.

Satu bulan setelah memiliki kalung tersebut, terjadi kejadian yang membuatnya bertanya-tanya.

Seperti kebiasaannya, ayah si gadis yang pulang kerja cukup larut, selalu mengucapkan selamat tidur pada putrinya ini.

Namun, kali ini, sembari mengucapkan selamat mimpi indah, sang ayah meminta agar kalung tersebut diberikan kepadanya. Ketika ditanya kenapa, dia tidak menjelaskan dan hanya berkata, “Berikan saja pada Ayah, boleh, sayang?”

Dan ini terjadi setiap malam.

Si gadis kecil yang bingung kenapa sang ayah meminta kalung kesayangannya tersebut selalu menolak. Demikian kira-kira dialog mereka.

“Anakku, apakah kau menyayangi ayah?”

“Tentu saja ayah. Aku sangat menyayangi ayah,” jawab si gadis sambil memeluk leher ayahnya.

“Dan kau juga tahu kalau Ayah menyayangimu?” tanya sang ayah lagi. Yang dijawab dengan anggukan pasti dari kepala mungil putrinya tersebut.

“Kalau begitu coba berikan kalung mutiaramu kepada ayah,” pinta si ayah lebih lanjut.

“Ayah aku sayang Ayah, tapi Ayah jangan minta kalungku itu. Ayah boleh ambil mainanku yang lain. Tapi jangan kalungku, ya, Ayah, please.” rengek si gadis.

Begitulah, maka si ayahpun mengalah dan tidak meneruskan niatnya meminta kalung putrinya.

Setelah beberapa kali dialog ini terulang di hari-hari berikutnya, akhirnya pada malam ke sekian, si gadis kecil kita ini, sambil duduk bersila di atas kasurnya, menunggu sang ayah datang untuk mengucapkan selamat tidur.

Dia telah memutuskan akan memberikan kejutan kecil kepada ayahnya. Sebelum sang ayah membuka mulut untuk lagi-lagi meminta si gadis kecil menyerahkan kalungnya, dia mengulurkan tangannya yang tergenggam kepada sang ayah.

Sambil tersenyum dia berkata, “Baiklah ayah. Ini dia kalungku. Ambilah kalau memang ayah menginginkannya. Aku sayang ayah. Aku akan berikan pada ayah apapun yang ayah mau.”

Ketika si putri mengulurkan tangannya untuk menyerahkan kalung mutiaranya (yang sebenarnya cuma imitasi meskipun indah, ) si ayah menerimanya lalu meletakkannya di meja.

Kemudian dari saku bajunya, dia mengeluarkan seuntai kalung mutiara asli yang sungguh indah berkilauan, menakjubkan.

Dipasangkannya kalung tersebut ke leher buah hatinya yang ternganga takjub melihat hadiah luar biasa indah yang tak pernah dia duga sebelumnya Suatu kejadian yang sangat indah.

Sekarang mari kita telaah makna cerita tersebut, dalam hubungannya dengan prinsip letting go atau ikhlas untuk mencapai kesuksesan.

Apakah Anda cinta kepada Tuhan? Tentu, ya.

Apakah Anda yakin Tuhan mencintai Anda? Harusnya, ya.

Anda yakin kemampuan Tuhan yang sangat besar dalam menciptakan dan memberi?

Bila jawabannya semua YA, siapkah Anda bila harus melepaskan apapun yang sudah Anda miliki  selama ini, sebaik apapun,?

Siapkah kita untuk sepenuhnya percaya bahwa TUHAN tahu yang terbaik untuk kita, sementara kita tidak tahu sedikitpun tentang apa yang akan terjadi di depan kita?

Siapkah kita untuk selalu yakin jika yang terjadi pada kita, entah yang menurut kita terjadi dengan sendirinya ataupun melalui usaha keras kita, sebenarnya itu terjadi karena kehendak-NYA.

Jika semua pertanyaan diatas jawabanya masih “YA” maka yakinlah jika Tuhan bisa memberi kita yang asli (orisinil).

Jadi langkah awal untuk bisa menerima orisinil, yang lebih baik dan lebih menyenangkan lagi adalah dengan tidak takut takut keluar dari zona nyaman, atau (comfort zone), untuk MENCOBA SESUATU YANG BARU, bertemu orang baru, merasakan gaya hidup bar dan  belajar suatu ilmu baru.

Jangan takut melepaskan dan meninggalkan semua yang Anda sudah miliki untuk terus menjelajahi, karena bisa jadi di situlah nanti Anda bisa temukan KALUNG MUTIARA ANDA yang asli, yang sedang diulurkan Tuhan kepada Anda.

Setiap kesuksesan dimulai dari suatu inovasi. Dan inovasi tidak akan terjadi bila kita berhenti mencoba hal baru.

Jadi jangan takut lagi, baik yang enak maupun yang tidak, kalau Tuhan memintanya, berikan saja dengan senang hati, ikhlas. Toh, DIA sudah berjanji akan menggantinya dengan yang lebih baik ? Dan janji siapakah yang lebih benar dibanding dengan janji Tuhan?

http://www.suksestotal.com/inspiring-stories.html


Aksi

Information

3 responses

4 06 2010
Iwan Rusliyanto

Artikel Bagus..Thx Jo…

7 06 2010
jomulyo

Sama2 bang iwan rush ..

1 07 2010
mubarokatan

kita bisa dinamakan IKHLAS mungkin jika kita mau memberikan yang kita punya dan paling kita senangi….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: