Kaca Yang Bening

11 09 2012

Hari minggu yang cerah, para santri mondar mandir bergotong royong membersihkan mesjid dan madrasah. Para ustad pun tak kalah dengan para santri, mereka memberi perintah kepada para santri yang sudah dibuat per kelompok … Hmm ramai sekali.
Pak Kyai memandang dari teras rumahnya yang jaraknya hanya beberapa meter dari mesjid dan madrasah sambil menikmati kopi dan kue yang disediakan Bu Kyai. Tak berapa lama, dia pun turun dari teras sambil tersenyum bangga melihat santri-santri yang rajin. Beliau mulai masuk ke dalam mesjid, memeriksa debu-debu yang sudah dibersihkan oleh para santri.
“Hmm … lumayan cukup bersih” Beliau bergumam
Tak lama berkeliling, beliaupun keluar dari mesjid dengan senyum sumringah sambil melangkah menuju madrasah.  Para santri yang ada di madrasah mulai satu per satu pelan-pelan meninggalkan tempat dimana mereka bekerja.
“Loh … mau pada kemana?” Pak Kyai bertanya.
“Mau ke belakang Pak Kyai, ambil air” Salah satu satri menjawab sambil ngeloyor pergi diikuti teman-temannya.
Pak Kyai pun terus melanjutkan memeriksa hasil kerja para santri nya di madrasah. Satu per satu diperhatikan kaca-kaca madrasah yang sudah dibersihkan.
“Hmm … lumayan bersih walaupun di pojok kaca masih ada sedikit debu” Gumam Pak Kyai.
Sesaat … Pak Kyai berhenti di satu jendela, beliau memandang jendela itu dengan takjub.
“Subhanallah … bersih sekali kaca jendela ini, tidak ada satu pun debu yang nampak di sudut kacanya” Pak Kyai membatin.
Semakin dilihat kaca jendela itu semakin heran Pak Kyai dengan orang yang membersihkannya, betul-betul sangat bersih. Beliau pun mendekat dan semakin mendekat pada jendela itu ….
Sekilas dilihatnya seekor kupu-kupu kecil berwarna kuning berada dibalik jendela terbang menari-nari, begitu jelas dan nyata.
Sontak beliau kaget … kupu-kupu kecil itu melewati jendela, beliau hanya memandangi kupu-kupu kecil yang terbang dan dengan reflek memegang kaca jendela …. Ploshhhh ….
“Hah … kemana kaca jendela nya???”
“Ali …. Ustad Ali, kesini kamu !!!!” teriak Pak Kyai
Tergopoh-gopoh ustad Ali datang mendatangi Pak Kyai … Maklum kalau sudah ada teriakan seperti itu pasti ada masalah.
“Ada apa Pak Kyai ?” Tanya ustad Ali
“Kemana kaca jendela ini ??!!” masih dengan nada tinggi Pak Kyai bertanya.
“Innalillahi … waduh, saya juga baru tahu Pak Kyai” Jawab Ustad Ali dengan wajah melongo memandang jendela tak berkaca.
“Santri .. semua kumpul di lapangan bulu tangkis !!!” Ustad Ali memberi komando.
Satu per satu para santri berlarian ke lapangan, memang mereka sudah terbiasa dengan komando seperti itu sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama para santri pun sudah berbaris di lapangan sambil ada yang membawa peralatan kebersihan.
“Santri … Siapa diantara kalian yang memecahkan kaca jendela madrasah ?” Tanya ustad Ali.
Para santri hanya saling memandang satu sama lain sambil bergumam tak karuan membuat suasana menjadi gaduh.
“Diam semua !!!” teriak ustad Ali
Seketika semua terdiam dan tertunduk, para santri ketakutan melihat wajah Pak Kyai yang memerah karena menahan marah.
Tiba-tiba Adam mengangkat tangan, semua mata tertuju kepadanya.
“Saya yang memecahkan kacanya ustad” ujar Adam.
Suasana berubah menjadi riuh rendah …
“Diam semua !!!” teriak ustad Ali sekali lagi dan mereka pun diam.
“Betul Adam .. kamu yang memecahkan kaca itu?” Tanya ustad Ali menyelidik.
“I .. ii .. iya ustad” jawab Adam terbata-bata sambil melirik ke kiri dan memandang wajah Pak Kyai.
Pak Kyai memandang tajam pada Adam dan Adam pun semakin tertunduk.
“Baru saja tadi malam aa membahas tentang bab kejujuran … bukankah Rasulullah menyatakan : “Wajib atas kalian untuk jujur, sebab jujur itu akan membawa kebaikan, dan kebaikan akan menunjukkan jalan ke sorga, begitu pula seseorang senantiasa jujur dan memperhatikan kejujuran, sehingga akan termaktub di sisi Allah atas kejujurannya. Sebaliknya, janganlah berdusta, sebab dusta akan mengarah pada kejahatan, dan kejahatan akan membawa ke neraka, seseorang yang senantiasa berdusta, dan memperhatikan kedustaannya, sehingga tercatat di sisi Allah sebagai pendusta” (HR. Bukhari-Muslim dari Ibnu Mas’ud)” ujar ustad Ali mengingatkan pelajaran tadi malam.
“Mmmm ….” Adam bergumam.
Pak Kyai maju dan mendekat kepada Adam, wajah nya sudah tidak terlihat memerah kemudian beliau berkata dengan lemah lembut.
“Pada prinsipnya tanggungjawab dalam Islam itu berdasarkan atas perbuatan individu saja sebagaimana ditegaskan dalam beberapa ayat seperti ayat 164 surat Al An’am yang Artinya: “Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” Ungkap Pak Kyai.
“Adam … kelihatannya kamu menyembunyikan sesuatu” ujar Pak Kyai.
Kelihatan kaki Adam bergetar karena takut … badannya mulai tidak tenang.
“Saya tahu bahwa sebenarnya kamu hanya melindungi temanmu … tapi seyogyanya temanmu lah yang mengaku secara jujur dan jantan atas apa yang telah diperbuatnya, bukankan Allah berfirman dalam surat Al Mudatstsir ayat 38 yang artinya: “Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa yang telah diperbuatnya” ?” Pak Kyai melanjutkan.
Semua terdiam …
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki, semua memandang kepadanya. Dia maju mendekati Adam dan berdiri disampingnya.
“Saya yang memecahkan kacanya Pak Kyai” Sosok kecil itu tertunduk dan bergetar ketakutan.
“Hmm .. jadi kamu Ahmad yang memecahkan kacanya ??!!” ujar Pak Kyai sedikit keras
“I .. ii .. iya Pak Kyai” ujar Ahmad bergetar.
“Adam .. kenapa kamu mengaku-ngaku memecahkan kacanya ??!!” Tanya Pak Kyai sambil memandang wajahnya yang tertunduk.
“Mmm … karena saya ketua dari kelompok “Umar bin Khatab” … saya bertanggung jawab atas apa yang dilakukan teman-teman di kelompok” ujar Adam pelan.
Pak Kyai menghela nafas … Dia pun memandang ustad Ali, ustad Ali hanya tertunduk.
“Baik … Ada satu pelajaran penting di pagi ini, kejujuran adalah sesuatu yang penting dalam hidup, apabila kalian sudah mulai berdusta maka kalian akan melakukan dusta-dusta berikutnya untuk menutupi dusta yang sebelumnya dan itu tidak akan pernah berhenti sampai kalian melakukan kejujuruan …. Kalian mengerti ??!!!” ujar Pak Kyai keras.
“Iya Pak Kyai !!!” semua santri menjawab.
“Sebagai hukumannya …. Tidak hanya Ahmad tapi seluruh santri harus melakukan push-up sebanyak 20x karena kalian pun menutupi kebenaran, selain itu … Adam sebagai ketua kelompok dan para ustad pun melakukan hal yang sama karena lalai dalam mengawasi para santri … Kalian faham ??!!” tegas Pak Kyai.
“Iya Pak Kyai !!!” semua menjawab.
“Oke, push up dipimpin ustad Ali” ucap Pak Kyai sambil berlalu meninggalkan lapangan.
Sambil berjalan pelan, Pak Kyai memandang para santri dan ustad nya yang memulai hukuman
“Hari ini mereka mendapatkan pelajaran berharga tentang kejujuran tapi sekarang … dari mana uang untuk menggantikan kaca yang sudah pecah ya ??? …”
“Hmm …  Ada-ada saja neh santri“ gumam Pak Kyai sambil berlalu.

JoMulyo


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: