Kekayaan Yang Melenakan

13 09 2012

Alkisah … Ada seorang penulis amatir yang hasil tulisannya selalu ditolak oleh penerbit, kemanapun dia mengajukan tulisannya selalu saja dicemoohkan padahal ayahnya adalah salah seorang penulis terkenal hingga akhirnya dia pun menjadi putus asa dan membuang hasil tulisannya kedalam tong sampah kemudian beralih profesi menjadi buruh tukang gali tanah.Walaupun demikian, dia mempunyai anak dan istri yang selalu membahagiakannya. Canda dan tawa, hampir setiap hari terdengar di rumah nya yang kecil dan sudah lapuk makan usia hasil pemberian ayahnya. Sungguh sebuah keluarga yang bahagia …
Singkat cerita, tanpa sengaja tulisannya yang sudah dibuang ke tong sampah itu ditemukan oleh salah seorang manager salah satu penerbit diluar kota yang kebetulan sedang melakukan bisnis dikota dimana penulis itu tinggal.
“Hmm .. Sungguh luar biasa tulisan ini, aliran ceritanya begitu menggugah dan mengharukan !!!” komentarnya.
Dengan segera, dia pun mulai mencari-cari siapa penulis tulisan itu. Setelah berhari-hari .. tak sia-sia usahanya, akhirnya dia pun bertemu dengan penulis tersebut. Tidak membutuhkan waktu yang lama, kontrak penerbitan tulisan penulis itu pun ditandatangani dan novel pun sudah mulai di “publish” di beberapa kota sehingga nama penulis itu pun mulai terkenal dan diperbincangkan banyak orang.
Manager itu tidak hanya berperan jadi manager penulis tapi juga menjadi sahabat dekat dari penulis dan keluarganya. Begitu sabar dia menuntun dan mengarahkan penulis itu dari keterpurukan hidupnya hingga dalam jangka waktu 3 bulan saja, penulis itu sudah menjadi orang yang berkecukupan.
Sekali waktu dalam perjalanan tur untuk jumpa penggemar di salah satu kota besar, dia diperkenalkan dengan beberapa penerbit besar. Salah satu penerbit besar itu menawarkan harga yang begitu tinggi untuk novel nya yang jauh sekali dengan harga dari penerbit sekarang. Kebimbangan mulai mendera dirinya antara ketidakenakan pada sahabatnya yang sudah membantu dan mengangkat dirinya dalam keterpurukan dan besarnya uang yang akan dia dapatkan apabila menyetujui untuk bekerjasama dengan penerbit besar. Berhari-hari dia memikirkan terus menerus sampai akhirnya dia memutuskan secara sepihak dengan manager dan juga sahabatnya tanpa memberitahu kemudian menyetujui kerjasama dengan penerbit besar itu.
Memang luar bisa, setelah kerjasama dengan penerbit itu uang dalam jumlah banyak pun dengan cepat masuk ke rekeningnya akan tetapi hal itu tanpa konsukwensi, jadwal padat mulai menghinggapi dirinya dan dia pun mulai sering tidak berada di rumah, pindah dari satu kota ke kota lain, komunikasi dengan istri dan anaknya mulai renggang, percekcokan mulai muncul pada saat menelepon dengan istrinya. Padahal anak dan istrinya yang dicintainya sudah dibelikan rumah mewah dan apapun semua kebutuhannya selalu dipenuhi.Dalam kegalauannya, dia pun sejenak merenungkan disalah satu kedai kopi dekat hotel mewah dimana dia menginap.
“Apa yang salah dengan diriku?” gumam dia membatin
Tanpa disadari, telah duduk seorang lelaki tua duduk disampingnya. Dia hanya memandang dengan tatapan lembut dan kasih, dengan tersenyum dia berkata.
“Ada saat engkau dalam keterpurukan dan ada saat engkaupun dalam kedigjayaan, tapi ingat .. hidup ini hanya satu kali dan engkau pun tidak tahu kapan maut akan menjemputmu. Bisa jadi besok, lusa atau bahkan mungkin beberapa detik lagi” ujar orang tua itu pelan.
Terdiam orang tua itu sejenak sambil menghela nafas, “Gunakan sisa umurmu untuk mencintai dan membahagiakan keluargamu, orang tua mu dan orang-orang disekelilingmu karena harta benda bukanlah segala-galanya”.
“Apa maksudmu hai orang tua ??!!” ujar penulis sedikit keras
“Bukankah saya bekerja keras hasilnya untuk mereka juga?” mulai meninggi suara penulis terdengar
Pak tua itu berdiri dan sambil berlalu dia berkata “Demi Allah, harta benda yang engkau dapatkan saat ini tidak akan engkau bawa kedalam liang lahatmu” dan dia pun pergi perlahan.
Setelah kejadian itu, hari ke hari keadaan semakin rumit … malah istrinya mulai mengancam untuk meminta cerai, anaknya pun sudah tidak mau lagi menerima telepon dari dirinya. Dalam kekalutan itu, di satu sore menjelang malam dia pun berjalan-jalan ke satu taman di salah kota yang jauh dari kota tempat dia tinggal untuk mencoba membuang rasa kekalutan yang mendera. Sambil berdiri dan memandang kolam yang tenang, penulis itu diam membisu sehingga tanpa sadar orang tua yang pernah bertemu dengannya telah berdiri disampingnya.
“Anakku .. cepatlah sadar, kematianmu akan segera tiba” ujar Pak Tua sambil beranjak pergi
Menggigil penulis itu ketika mendengar kata “Kematian”, Dia pun teringat hasil tes “Medical Check Up” kemarin bahwa ada masalah dengan otaknya dan menurut dokter kemungkinan kanker otak.
“Ya Allah, aku akan segera berpisah dengan istri dan anakku yang aku sangat cintai …” desis penulis perlahan. Dia pun lemas dan terduduk sambil berurai air mata hingga tertidur di taman itu.
Esok harinya, tanpa pikir panjang penulis itu mengundurkan diri dari kerjasama dengan penerbit besar, dia tidak peduli berapapun denda yang harus dibayar atas keputusannya itu. Yang ada dalam pikiriannya hanya ingin betemu dengan para kekasihnya … Ya istri dan anak yang sangat dicintainya.
Sahabatku … kekayaan memang perlu untuk hidup dan ibadah kita didunia ini akan tetapi janganlah hal itu melenakan dan menjadikan dirimu terpenjara dalam kedigjayaan yang semu. Bukankah Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an : “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” (QS. Ali Imran 14).

JoMulyo

 


Aksi

Information

2 responses

14 09 2012
Bahaya Berada di Zona Nyaman | inspirasi.me

[…] HIDUP SEORANG BLOGGER – saidqbMenghargai ProsesSTART OVERSoal Kerjaan, Soal Korupsi, dan Soal BlogThree Months Still Moving OnKetidakpahaman kesesatanUsia mudaAnda masuk surga karena agama anda ataukah karena aliran/Ormas andaKekayaan Yang Melenakan […]

22 07 2013
nano

Sadis banget. solusinya tidak menggambarkan penyelesaian untuk meneruskan kesuksesan sekarang demi kemaslahatan masa depan. Bukankah rasul sendiri mengatakan, ” Seandainya kau tahu bahwa besok akan kiamat dan ditanganmu ada sebutir benih. maka tanamlah benih itu sekarang.” Dan Umar bin Khatab pun pernah bertanya kepada seorang kakek yang membiarkan tanahnya tidak ditanami, kakek itu menjawab karena dia sudah tua lalu Umar memerintahkan kakek itu mengolah tanahnya dan bahkan umar pun ikut membantu menanam benih pada tanah kakek itu.
Kita memang harus kembali ke keluarga kita. namun kita harus tetap maju walau pun malaikat maut sudah mengucapkan salam kepada kita untuk mencabut nyawa kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: