Kekayaan Yang Berkah

14 09 2012

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk dalam kubur, Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.  Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahannam, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)“. (QS At Takatsur 102 ayat: 1- 8)

Perdebatan mengenai apakah seorang muslim harus kaya atau tidak mungkin tidak akan pernah selesai sampai hari kiamat nanti.  Di satu pihak, ada beberapa ustadz dan motivator serta trainer yang menganjurkan agar seorang muslim menjadi orang kaya.  Mereka beralasan bahwa diantara 5 rukun Islam, yang tidak perlu uang hanya syahadat.  Yang lain, seperti sholat, zakat apalagi haji, perlu biaya yang tidak sedikit.  Mereka juga mengatakan bahwa dengan kelebihan hartanya, seorang muslim bisa membantu saudara-saudaranya yang hidupnya miskin dan penuh kekurangan.  Sebaik-baik harta kekayaan adalah harta kekayaan di tangan orang-orang yang shaleh.
Bukankah jika hendak membantu orang lain, seseorang harus terlebih dahulu mencukupi kebutuhan hidupnya?
Namun, di sisi lain, ada sejumlah ustadz yang berpendapat sebaliknya.  Mereka mengatakan bahwa kekayaan seringkali lebih banyak membawa bahaya atau mudharat dibandingkan manfaat.  Sepanjang sejarah hingga hari ini, bahkan mungkin sampai masa yang akan datang, lebih banyak orang kaya yang serakah, egois bahkan jahat dibandingkan yang baik.  Mereka pun mengatakan bahwa anjuran menjadi orang kaya bisa menjerumuskan kaum muslimin menjadi orang-orang yang cinta dunia dan menghalalkan segala cara.
Insya Allah kedua kelompok yang berbeda pendapat itu sama-sama menginginkan kebaikan bagi saudara-saudara mereka sesama muslim.  Hanya saja, pemahaman yang berbeda menyebabkan mereka memiliki kecenderungan dan pendapat yang juga berbeda.  Jika yang satu memahami bahwa harta adalah bagian penting dari perjuangan menegakkan kalimat Allah dan mendakwahkan Islam, yang lain malah menganjurkan ummat waspada terhadap harta.   Sayangnya, kedua pemahaman yang sekilas terlihat saling bertentangan ini seringkali menghasilkan perdebatan tak berujung pangkal dan konflik yang tidak sehat. Terutama bila perdebatan itu berlangsung di dunia maya, baik di blog, situs internet atau mailing list.
Harta memang seringkali mendapat tempat yang terlalu tinggi dalam hati manusia.  Sehingga, banyak manusia yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan harta dan sangat kikir dalam membelanjakan hartanya.  Ada pula yang boros saat membelanjakan harta untuk kepentingannya sendiri, namun pelit saat menggunakan harta tersebut di jalan yang diridhoiNya.  Pesona harta memang menyilaukan mata dan membutakan hati, terutama bagi mereka yang lemah imannya dan dangkal pengetahuan agamanya.  Sehingga, banyak orang yang terjerumus dalam kehancuran di dunia dan kecelakaan di akhirat akibat tidak tahan melihat kemilau pesona harta dunia.  Islam memandang harta sebagai karunia, nikmat sekaligus amanah.  Diantara nikmat Allah SWT yang tak terhitung banyaknya, harta menempati posisi terendah dalam pandangNya.  Karena itulah, hisab harta lebih berat dibandingkan hisab atas nikmat-nikmat lainnya.  Jika usia dan ilmu hanya ditanya kemana dihabiskan, maka harta ditanya darimana memperoleh dan untuk apa dibelanjakan.  Memang tidak ada dalil, baik dari Al Quran ataupun hadits, yang melarang orang Islam jadi kaya.  Yang dilarang adalah bermewah-mewah dengan harta benda dan membiarkan jiwa dan hati kita diperbudak olehnya.  Namun, tanpa keteguhan iman dan penjagaan dari Allah SWT, harta justru akan membawa kesengsaraan bagi yang memilikinya.  Jiwa dan hati manusia terlalu lemah untuk bisa berhadapan dengan harta benda tanpa perlindungan dan pertolonganNya.
Lepas dari pendapat mana yang kita setujui, yang terbaik adalah meniatkan setiap aktivitas enterpreneuship kita untuk sungguh-sungguh untuk mencari harta demi memperjuangkan Islam dan membantu sesama muslim agar mampu mandiri secara ekonomi.

Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah SWT mencintai hamba-Nya yang bertakwa, yang kaya (kecukupan), dan yang tidak menampakannya”. (HR. Muslim dan Ibnu Hibban)

Abdurrahman bin ‘Auf adalah seorang shahabat Nabi s.a.w. yang mempunyai banyak keistimewaan, di antaranya adalah beliau diberitahukan masuk syurga oleh Allah s.w.t. ketika masih hidup serta termasuk salah seorang dari enam orang anggota syura. Dia adalah sahabat yang pandai berdagang dan sangat ulet. Maka mulailah ia menjual dan membeli. Selang beberapa saat ia sudah mengumpulkan keuntungan dari perdagangannya. Keuletannya berdagang serta doa dari Rasulullah, menjadikan perdagangannya semakin berhasil, sehingga ia termasuk salah seorang sahabat yang kaya raya. Kekayaan yang dimilikinya, tidak menjadikannya lalai. Tidak menjadi penghalang untuk menjadi dermawan.
Abdurrahman turut hijrah ke Habasyah (sekarang Ethiopia-red) bersama kawan-kawan seiman untuk menyelamatkan diri dari tekanan kaum Quraisy yang tak henti-hentinya menteror mereka.Tatkala Rasulullah SAW dan para sahabat hendak melakukan hijrah ke Madinah, Abdurrahman termasuk orang yang menjadi pelopor kaum Muslimin untuk mengikuti ajakan Nabi yang mulia ini. Di kota Madinah, Rasulullah SAW banyak mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshor.Di antaranya Abdurrahman yang dipersaudarakan dengan Saad bin Rabi’ al-Anshory Ra.
Abdurrahman bin Auf di samping meninggalkan kota kelahirannya Mekkah juga meninggalkan seluruh harta yang dimilikinya sehingga setibanya di Madinah beliau tidak memiliki apapun harta dan bahkan beliau tidak memiliki isteri. Diriwayatkan dari Anas bin Malik, sesungguhnya Abdurrahman bin Auf telah dipersaudarakan (oleh Nabi s.a.w.) dengan Sa’ad bin al-Rabi’ al-Ansari tatkala tiba di Madinah. Lalu Sa’ad berkata kepadanya: Saudaraku! Saya adalah salah seorang penduduk Madinah yang punya banyak harta, pilihlah dan ambillah/ dan saya juga mempunya dua orang isteri, lihatlah salah satunya yang mana yang menarik hatimu sehingga saya bisa mentalaknya untukmu. Abdurrahman menjawab semoga Allah memberkatimu pada hartamu dan keluargamu (akan tetapi) tunjukkanlah di mana letak pasarmu. Merekapun menunjukkan pasar, maka beliaupun melakukan transaksi jual beli sehingga mendapatkan laba (yang banyak) dan telah mampu membeli keju dan lemak. Kemudian tidak lama berselang iapun sudah dipenuhi oleh wewangian (menikah). Lalu Rasulullah s.a.w. bertanya: “apa gerangan yang terjadi denganmu?”, Ia menjawab:” Wahai Rasulullah, aku telah menikah. Baginda bertanya: apa maharnya? Ia menjawab: “emas sebesar biji kurma”. Baginda bertanya kembali: “buatlah walimah (pesta perkawinan) walaupun dengan satu ekor kambing”.

Sahabatku … dari cerita ringkas diatas dapat diketahui bahwa para sahabat Rasulullah adalah orang-orang yang sangat kreatif dan mampu menyeimbangkan antara kebutuhan dunia dan akherat dalam hidupnya, tidak ada keterlenaan dalam diri mereka untuk selalu berikhtiar mencari keridloan dan keberkahan dalam hidupnya. Lantas … apa yang menjadi dasar dan bagaimana cara seorang muslim mencari rezeki ??, kita perhatikan rezeki menurut Al-Qur’an dan Hadist.

1. Bertaqwa (Al-qur’an surat Ath-Thalaaq [65]: 2-3 )
“…Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.”, ayat 3 “Dan memberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
2. Taubat (QS. Nuh[71]: 10-12)
“Maka aku katakan pada mereka: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalamnya) untukmu sungai-sungai””
3. Tawakal (Ath-Thalaaq [65]: 3)
“…Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan keperluan(nya)”
4. Bersyukur (QS. Ibrahim[14]: 7)
“…Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. ”
5. Berhijrah karena Allah
“Barangsiapa berhijrah dijalan Allah, niscaya mereka mendapati dimuka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak.” (QS. An Nisa[4]: 100)
6. Membina Silaturahim
“Pelajarilah (yang cukup) silsilahmu agar kamu bisa membina tali silaturahim, karena membina tali silaturahim menambah jalinan kasih sayang diantara keluarga-keluarga, memperbanyak kekayaan, dan memperpanjang umur.” (HR At-Tirmidzi dan Ahmad)
7. Menginfaqkan Harta
“Dari Abu Hurairah RA, Rosululloh SAW bersabda, :”Allah telah berfirman: wahai anak adam! Infaqkanlah hartamu. Aku akan menambah hartamu.”
8. Menikah
“Dan menikahlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Maha luas (pemberianNya) lagi maha mengetahui” (QS. An Nuur : 32)
9. Akhirat sebagai tujuan utama
“Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai seluruh tujuan dari tujuan-tujuannya, maka Allah akan mencukupi duniawinya. Dan barangsiapa yang memperbanyak tujuan-tujuannyautnuk dunia, maka Allah tidak peduli di lembah mana ia akan dibinasakan.”(HR Ibnu Majjah dan Al-Hakim)
10. Berdo’a dan Berusaha
Ayat tentang berdo’a: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu…”(QS. Al Mu’min[40]: 60)
11. Bersungguh-sungguh dalam berusaha (ikhtiar)
“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”(QS. Al Jumu’ah[62]: 10)
“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”(QS. Ar Ra’d[13]: 11)

Dari ayat-ayat tadi kita bisa lihat bahwa Allah telah memberikan rahasia (The Secret) bagaimana mendapatkan rizki yang berlimpah dan berkah. Jadi saatnya kita kembali kepada Al-Qur’an dan Hadist, karena semua rahasia kehidupan tampaknya sudah Allah tuliskan melalui Al-Qur’an dan Al Hadist.
Jika memang perlu jadi orang kaya, biarlah Allah SWT yang menakdirkannya.  Agar selain diberi karunia harta yang melimpah, kita juga diberikan kemampuan mengelolanya agar sesuai dengan syariat yang diridhoiNya.  Sehingga harta kita bisa memberi sebanyak mungkin manfaat, baik untuk kita sendiri maupun saudara-saudara kita sesama muslim di dunia dan akhirat.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: